5 Makanan Peningkat IQ Bayi Untuk Dimakan Saat Hamil

Resepmakananbalita.com – Ibu hamil memiliki dampak langsung pada perkembangan fisik bayi. Tidak hanya itu, menurut studi terbaru, makanan ibu hamil juga ternyata mempengaruhi kecerdasan bayi. Makanan apapun yang kaya akan lemak omega 3 dapat membantu produksi neuron. Neuron adalah saraf yang menghubungkan otak dengan bagian tubuh lainnya, serta memudahkan transfer pesan melalui impuls listrik. Jika Anda sedang hamil, pastikan konsumsi setidaknya 300 miligram omega 3 DHA setiap hari, terutama pada trimester ketiga saat pertumbuhan otak bayi mencapai puncaknya, meningkatkan IQ-nya. Asam lemak omega berlimpah pada makanan seperti telur, tahu, biji rami, berbagai jenis kacang, bayam, sayuran berdaun, dan daging merah. Buah dan sayuran mengandung berbagai vitamin penting, seperti A, B, C, K, dan banyak antioksidan yang berfungsi menghilangkan radikal bebas berbahaya dari tubuh. Radikal bebas yang tinggal di dalam tubuh seorang wanita hamil dapat menyebabkan kerusakan otak bayi yang serius.

Beberapa buah dan sayuran yang kaya antioksidan adalah sayuran berdaun, tomat, pepaya, blackberry, blueberry, jeruk, dan kangkung. Atau Anda juga bisa mengonsumsi kopi. Selain itu, pertimbangkan untuk makan buah dan sayuran organik. Paling tidak Anda memastikan bahwa makanan ini bebas dari bahan kimia yang dapat menyebabkan kerusakan otak, tidak meningkatkan IQ, dan masalah perkembangan janin lainnya.

Lebih dari itu, memberikan sumber makanan yang bervariasi justru akan semakin membantu kebutuhan gizi bayi tercukup secara optimal. Namun yang terpenting, tetap pertimbangkan pemberian tekstur yang tepat agar tidak menyulitkan bayi saat memakannya. Berapa porsi makanan bayi usia 11 bulan? Porsi makan bayi di usia 11 bulan ini sebenarnya sama saja seperti usia 10 bulan, yakni sekitar setengah mangkuk atau 250 mililiter (ml). Sementara untuk frekuensi atau jumlah makannya, bisa Anda berikan sebanyak 3-4 kali dalam sehari.

Penggunaan mangkuk khusus dengan ukuran yang sesuai lebih anjurkan agar Anda bisa menilai seberapa banyak makanan yang dapat dihabiskan bayi usia 11 bulan. Jika ternyata masih kurang, Anda bisa menambahkan pemberian makanan selingan atau camilan sebanyak 1-2 kali per hari. Usahakan agar waktu bayi saat makan tidak terlalu lama atau sebaiknya tidak lebih dari 30 menit. Selain itu, pastikan untuk mengurangi gangguan saat makan seperti bermain, menonton tv, dan sambil berjalan-jalan. Di samping memerhatikan porsinya, jangan lupa untuk senantiasa menjaga kebersihan proses pengolahan dan pemberian makanan untuk bayi 11 bulan.

Jangan menyerah saat memperkenalkan jenis makanan baru. Supaya lebih mudah dalam mengukur seberapa banyak porsi makanan untuk bayi usia 11 bulan, Anda bisa menggunakan mangkuk khusus yang memiliki ukuran 250 ml. Penggunaan mangkuk khusus dengan ukuran 250 ml bertujuan untuk memastikan jumlah asupan makanan bayi usia 11 bulan setiap harinya sudah memenuhi porsi idealnya. Tak lupa, Anda juga harus selalu bersabar saat mengajarkan dan memberikan bayi makan. Coba berikan dorongan agar bayi mau makan saat nafsu makannya sedang kurang baik. Selain itu, pahami kalau waktu makan bayi 11 bulan bukan hanya tentang makanan saja. Cobalah untuk melakukan banyak komunikasi dan interaksi dengan anak guna membangun ikatan keluarga yang lebih kuat.

Baca Juga  : Untuk Si Kecil Sudah Memasuki Usia 6 Bulan

Orang tua mana yang tak kesal bahkan ‘naik pitam’ ketika melihat buah hatinya ‘memain-mainkan’ makanan mereka. Ini biasanya menunjukkan bahwa si anak cenderung susah makan. Kendati demikian, sebuah studi baru yang dilakukan De Montfort University, Leicester mengungkap, anak yang diperbolehkan mengacak-acak makanannya justru lebih mudah diminta makan sayuran dan buah. Menurut peneliti, kunci untuk membuat anak-anak mau makan sayur dan buah adalah tidak menekan mereka untuk melakukannya.

Trik berikutnya adalah membiarkan mereka ‘bermain’ terlebih dahulu. Percobaan dilakukan terhadap 62 anak usia prasekolah berusia 3-4 tahun di sekitaran Northampton, Inggris. Masing-masing orang tua mereka juga diminta mencatat jenis dan jumlah sayur dan buah yang dikonsumsi anak beberapa pekan sebelum percobaan. Setelah itu, sebagian anak kemudian diberi semangkuk sayur dan buah berisi brokoli, wortel, bayam, pisang, lobak, kacang hijau, jeruk, lemon, mentimun, tomat dan bluberi. Anak-anak ini lantas diminta meniru gambar-gambar yang ada dalam sebuah buku anak berjudul The Very Hungry Caterpillar dengan menggunakan bahan-bahan yang ada tadi.

Mereka diberi kebebasan berkreasi, termasuk untuk mengubah bentuk bahannya jika dibutuhkan. Sebagian lagi dibiarkan bermain dengan pompom, busa, bulu dan glitter. Hasilnya, mereka yang pernah bermain-main dengan buah dan sayur yang disediakan cenderung ingin mencoba memakannya ketimbang yang tidak memainkannya. Percobaan ini sesuai dengan hipotesis peneliti bahwa kunci untuk mendorong anak agar mau makan buah dan sayur bukanlah meminta mereka mencicipi rasanya, tetapi dengan memegangnya secara langsung. Permainan sensorik’ inilah yang kemudian membuat anak tak lagi melihat sayur dan buah yang selama ini dibencinya sebagai makanan yang tidak enak atau pahit.

Bahkan anak-anak yang sempat bermain-main dengan buah dan sayur tadi tak lagi perlu didorong, apalagi dipaksa untuk memakannya. Secara alami mereka mengonsumsi bahan-bahan makanan tersebut sesaat selepas percobaan. Karena jarang melihat dan memakannya dalam kehidupan sehari-hari, maka ketika anak diperbolehkan ‘memainkannya’, keinginan si anak untuk memakannya akan jauh lebih besar. Baca juga: Saat Balita Suka Sayur Tapi Tidak Ketika Remaja, Apa yang Salah? Cara lain yang disebut dalam studi yang dilakukan University of Minnesota School of Public Health untuk melatih anak doyan makan sayur dan buah adalah memberikan contoh saat makan bersama dan mempermudah anak untuk menjangkau buah dan sayuran yang ada, tentu saja yang sudah siap dimakan.