Beberapa Jenis Makanan Yang Baik Untuk Perkembangan Otak Anak

Resepmakananbalita.com – Anak-anak membutuhkan nutrisi dalam tumbuh kembangnya. Setiap asupan makanan yang dikonsumsi akan menunjang pertumbuhan serta kecerdasan otak si kecil. Tentu saja kita menginginkan buah hati tumbuh menjadi anak yang hebat. Penting sekali bagi orang tua untuk mendukung tumbuh kembang si kecil dengan memberikan stimulasi yang tepat serta memenuhi kebutuhan fisik serta biologis si kecil. Caranya yaitu dengan memberikan asupan nutrisi seimbang serta penting bagi otak. Jika nutrisi otaknya cukup tentu akan menunjang kemampuan fisik serta bisa membuat imunitas tubuhnya lebih kuat.

Nutrisi otak bisa anak-anak dapatkan dari makanan yang bergizi dan seimbang. Anak-anak membutuhkan beberapa zat nutrisi seperti karbohidrat , protein, lemak, vitamin, dan mineral. Tak bisa dipungkiri susu untuk perkembangan otak anak sangat penting. Susu merupakan minuman yang sehat serta sumber nutrisi seperti protein, kalsium, kalium, vitamin B dan D yang berperan dalam pertumbuhan jaringan otak, neurotransmitter dan juga enzim. Selain itu susu juga bisa bagus untuk pertumbuhan tulang, saraf, otot dan membuat anak lebih cerdas.

Sebaiknya mengkonsumsi secara rutin dua kali sehari terutama di masa tumbuh kembang anak agar ia sehat juga jadi anak yang hebat dan cerdas. Anak-anak sangat menyukai telur. Ternyata telur juga sangat baik untuk perkembangan otak anak. Kandungan protein pada telur bagus sekali untuk kecerdasan. Telur mengandung kolin yang baik untuk menajamkan ingatan. Alpukat sangat baik dikonsumsi anak-anak sejak bayi. Kandungan lemak baik yang terkandung di dalamnya sangat bagus sebagai sumber energy yang menunjang aktifitas anak. Selain itu ada pula serat dan vitamin E yang baik untuk pertumbuhan perkembangan otak anak. Alpukat juga bisa dijadikan menu alternative jika si kecil mogok makan. Selain sebagai sumber serat, sayur-sayuran berwarna, seperti bayam, wortel, kentang, dan brokoli sangat bagus untuk anak. Ada kanndungan vitamin, karbohidrat, dan antioksidan yang dapat mempertajam ingatan anak. Dengan begitu pelajaran yang didapat anak akan semakin mudah di ingat. Itulah beberapa jenis makanan yang baik untuk anak. Selain memberikan makanan yang bergizi jangan lupa untuk lengkapi si kecil dengan susu pertumbuhan agar ia tumbuh jadi anak hebat yang cerdas.

Asin, manis, atau pedas. Apa rasa kesukaan Si Kecil? Semakin bertambah usia Si Kecil, ia tentu semakin mengenal rasa makanan. Jangan heran jika buah hati Anda mulai memilih jenis dan rasa makanan yang ingin dikonsumsinya. Sebagian balita mungkin memilih makanan yang bercita rasa manis. Tapi tak sedikit juga anak yang lebih menyukai makanan bercita rasa asin atau gurih, lho. Nah apa efek sampingnya jika Si Kecil terlalu sering mengonsumsi makanan asin? Berbagai penelitian menunjukkan bahwa terlalu sering mengonsumsi makanan asin atau dengan kadar garam yang terlalu tinggi bisa memicu penyakit tekanan darah tinggi (hipertensi), jantung, serta kegemukan. Masalahnya, penyakit-penyakit tersebut tak hanya dialami orang dewasa. Asupan garam yang terlalu tinggi pada bayi dan balita juga bisa meningkatkan risiko hipertensi, osteoporosis, gangguan pernapasan seperti asma, obesitas, hingga kanker lambung di usia dini. Oleh sebab itu, Moms perlu berhati-hati saat memberikan makanan dengan cita rasa asin bagi Si Kecil. Sangat disarankan Anda tidak memberikan tambahan garam pada bayi di bawah usia satu tahun. Selain tidak baik bagi kesehatan, hal itu akan membuat anak terbiasa mengonsumsi makanan bercita rasa gurih atau asin.

• Sebelum Si Kecil berusia 6 bulan, ia hanya membutuhkan garam yang terkandung dalam ASI atau susu formula. • Usia 6-12 bulan: 200 mg sodium/hari. • Usia 1-3 tahun: 1.000 mg sodium/hari. • Usia 4-6 tahun: 1.200 mg sodium/hari. • Usia 7-9 tahun: 1.200 mg sodium/hari. • Usia 11 tahun ke atas: 1.500 mg sodium/hari. Apabila Si Kecil sudah terlanjur terbiasa mengonsumsi makanan asin, Moms bisa mengikuti langkah-langkah berikut ini guna mengurangi kebiasaannya tersebut. 1. Perlahan kurangi garam dalam masakan. Mengurangi konsumsi garam atau makanan asin memang tidak bisa dilakukan dengan cepat, melainkan harus bertahap. Agar Si Kecil terbiasa dengan cita rasa makanan yang tidak terlalu asin, Anda bisa menyajikan masakan yang dikurangi kadar garamnya sedikit demi sedikit. 2. Biasakan makan dengan teratur. Dengan kata lain, Moms perlu membiasakan anak untuk makan tepat pada waktunya di pagi, siang, dan malam hari. Melalui jadwal yang teratur, maka perut Si Kecil cenderung tetap terisi sehingga meminimalisasi keinginannya untuk mengonsumsi camilan, khususnya yang asin. 3. Siapkan camilan sehat.

Menghilangkan camilan dari kebiasaan makan Si Kecil memang sulit. Jika hal itu tidak bisa dilakukan, setidaknya Anda bisa mengganti menu camilannya dengan yang lebih sehat. Anda bisa mengganti keripik kentang dengan keripik gandum, biji-bijian, dan buah-buahan. 4. Perbanyak konsumsi air putih. Tubuh seringkali salah mengenali rasa haus sebagai rasa lapar. Oleh sebab itu, saat anak ingin mengonsumsi camilan tertentu, Anda bisa memberikannya air putih terlebih dahulu. Mengonsumsi air putih juga bisa membantu menekan rasa lapar sehingga anak tidak kalap makan camilan sebelum waktu makan tiba. 5. Minta dukungan orang sekitarnya. Ya, Anda bisa berbicara dengan om, tante, kakek dan nenek, serta tetangga dekat yang suka memberikan camilan asin kepada Si Kecil. Minta mereka untuk mengurangi kebiasaan itu demi kesehatan Si Kecil. 6. Mengurangi bukan menghilangkan. Mengurangi makanan asin bukan berarti Moms menghilangkan sama sekali jenis makanan ini kepada Si Kecil. Jika Anda memberlakukan larangan yang terlalu ekstrem kepada anak, bukan tak mungkin ia justru akan diam-diam mencari makanan asin kesukaannya. Beri pengertian kepadanya bahwa mengonsumsi terlalu banyak makanan asin tidak baik baginya. Moms, juga bisa menjadwalkan sesi mengonsumsi makanan asin bagi Si Kecil, misalnya sekali atau dua kali dalam seminggu.(Wieta Rachmatia/SW/Dok. Ibu Menyusui, Yuk Konsumsi Chia Seed. Kenapa Bayi Sering Kentut?