Manfaat Probiotik Yang Berjasa Besar Untuk Perkembangan Anak

Resepmakananbalita.com – Banyak orang tua menilai perkembangan anak tergantung pada organ otaknya. Padahal, organ lain juga berpengaruh dalam tumbuh kembang anak seperti saluran cerna. Salah satu organ dalam tubuh ini tidak hanya bekerja dalam menerima makanan dari luar, tetapi berfungsi dalam mempengaruhi perilaku anak. Untuk memaksimalkan tumbuh kembang si kecil, tentu harus diberikan nutrisi yang baik terutama untuk menjaga kesehatan saluran cerna. Head of Medical Kalbe Nutritionals dr Muliaman Mansyur kepada detikHealth, baru-baru ini. Salah satunya yang dapat membantu mendukung kesehatan pencernaan dengan pemberian probiotik. Probiotik adalah istilah yang digunakan untuk bakteri hidup yang dapat memberikan efek baik atau kesehatan pada manusia terutama diperlukan pada anak. Adapun makanan yang mengandung probiotik biasanya adalah bahan-bahan yang difermentasi atau diasamkan seperti yoghurt, kimchi, tape, ragi, dan susu yang diasamkan.

Selain itu, lanjut dr Muliaman, ASI juga dilaporkan mengandung bakteri yang baik atau probiotik ini. Mengingat banyaknya manfaat dari probiotik ini, maka beberapa perusahaan besar membuat probiotik ini yang sesuai dengan kebutuhan anak dan bayi. Hal itu karena saat ini ada 2 jenis probiotik yang banyak di produksi yaitu laktobasilus dan bifidobakterium. Tapi bagi anak, sebaiknya memilih probiotik yang memang hidup di tubuh bayi seperti bifidobackterium. Untuk itu perlu diketahui peran probiotik sangat penting dalam mencegah kelainan pada anak ini. Anda bisa menemukan probiotik ini dalam Morinaga Chil-School Platinum. Susu ini dilengkapi dengan formula MoriCare Zigma, yang mengandung Triple Bifidobakterium, AA DHA omega 2 dan 6, kolin, laktoferin, vitamin dan mineral.

2004) juga mengungkapkan bahwa hygiene perorangan dan sanitasi lingkungan merupakan faktor yang berpengaruh terhadap status gizi anak. Praktek Kesehatan di Rumah dan Pola Pencarian Pelayanan Kesehatan. Bayi dan anak perlu diperiksa kesehatannya oleh bidan atau dokter bila sakit sebab mereka masih memiliki resiko tinggi untuk terserang penyakit. Imunisasi merupakan pemberian kekebalan agar bayi tidak mudah terserang atau tertular penyakit seperti hepatitis B (HB), tuberkulosis, difteri, batuk rejan, tetanus, folio dan campak. Pemberian imunisasi harus sedini mungkin dan lengkap. Hal ini dapat dilakukan dengan aktif mendatangi kegiatan pemeliharaan gizi, misalkan posyandu.

Pelayanan kesehatan terhadap anak balita dapat meliputi pelayanan kesehatan di tingkat Posyandu, Puskesmas dan pelayanan kesehatan lainnya serta terkait pula dengan peran tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan kesehatan. Pelayanan kesehatan yang kurang menjangkau masyarakat atau kurang handalnya pemberi pelayanan kesehatan merupakan satu faktor kemungkinan penyebab masalah gizi kurang (Atmarita dan Fallah, 2004). Dalam penelitian Suryono dan Supardi (2004) disebutkan bahwa penimbangan anak batita secara teratur setiap bulan memiliki OR 3.1, artinya walaupun secara statistik tidak bermakna, secara realita dengan adanya penimbangan maka akan terdapat kontrol terhadap kondisi anak batitanya.

Faktanya secara statistik, terdapat kemungkinan 3.1 kali lebih banyak terjadinya gizi buruk pada anak batita yang jarang ditimbang dibandingkan anak batita yang rutin ditimbang setiap bulan di Posyandu. Penelitian yang dilakukan Made Amin et al. 2004) menunjukkan bahwa perawatan dasar memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap status gizi. Hal ini sejalan dengan penelitian Husaini (1996) dalam Made Amin et al. 2004) yang mengemukakan bahwa dalam upaya memperbaiki status gizi anak, dilakukan upaya pencegahan penyakit menyangkut perawatan dasar terhadap anak yaitu dengan pemberian imunisasi secara lengkap, pemberian vitamin A secara berkala (mengikuti bulan pemberian vitamin A) dan upaya perbaikan sanitasi terhadap anak, ibu dan lingkungan.

Kebudayaan suatu masyarakat mempunyai kekuatan yang berpengaruh terhadap pemilihan bahan makanan yang digunakan untuk dikonsumsi. Aspek sosio-budaya pangan adalah fungsi pangan dalam masyarakat yang berkembang sesuai dengan keadaan lingkungan, agama, adat, kebiasaan dan pendidikan masyarakat tersebut. Kebudayaan juga menentukan kapan seseorang boleh atau tidak boleh memakan suatu makanan (tabu), walaupun tidak semua tabu rasional bahkan banyak jenis tabu yang tidak masuk akal.

Oleh karena itu, kebudayaan mempengaruhi seseorang dalam konsumsi pangan yang menyangkut pemilihan jenis pangan, pengolahan serta persiapan dan penyajiannya (Mudanijah dalam Khomsan et al., 2004). Suatu pantangan yang berdasarkan agama (Islam) disebut haram hukumnya dan individu yang melanggar pantangan tersebut berdosa. Hal ini disebabkan makanan dan minuman yang dipantangkan mengganggu kesehatan dan jasmani atau rohani bagi pemakannya atau peminumnya. Sementara, pantangan atau larangan yang berdasarkan Gizi Burukercayaan umumnya mengandung perlambang atau nasihat-nasihat yang dianggap baik dan tidak baik yang lambat-laun menjadi kebiasaan (adat), terlebih dalam suatu masyarakat yang masih sederhana.

Baca Juga  : Makanan Pendamping ASI Untuk Bayi

Pangan yang menjadi pantangan (tabu) bagi anak kecil adalah ikan, terutama ikan asin karena dapat menyebabkan cacingan, sakit mata atau sakit kulit. Usaha yang dilakukan untuk meningkatkan mutu gizi masyarakat miskin dengan meningkatkan pertumbuhan ekonomi karena dengan pertumbuhan ekonomi akan meningkatkan pendapatan keluarga. Rendahnya pendapatan merupakan rintanga lain yang menyebabkan orang-orang tidak mampu membeli pangan dalam jumlah yang diperlukan (Sajogyam dkk, 1993). Selain itu keanekaragaman bahan pangan kurang terjamin, karena dengan uang yang terbatas itu tidak akan banyak pilihan (Wied Harry Apriadji, 1986). Akan tetapi, menurut Suhardjo (1985), naiknya pendapatan pada umumnya cenderung meningkatkan jumlah jenis makanan, namun pengeluaran yang lebih banyak untuk pangan tidak menjamin beragamnya konsumsi pangan.

Perubahan utama terjadi dalam kebiasaan makanan akibat pengeluaran uang yang lebih banyak ialah pangan yang dimakan itu lebih mahal. Daya beli keluarga sangat ditentukan oleh tingkat pendapatan keluarga. Orang miskin biasanya akan membelanjakan sebagian besar pendapatannya untuk makanan. Rendahnya pendapatan merupakan rintangan yang menyebabkan orang¬orang tidak mampu membeli pangan dalam jumlah yang dibutuhkan. Ada pula keluarga yang sebenarnya mempunyai penghasilan cukup namun sebagian anaknya berstatus kurang gizi. Pada umumnya tingkat pendapatan naik jumlah dan jenis makanan cenderung untuk membaik tetapi mutu makanan tidak selalu membaik (Suharjo dkk, 1986).

Anak-anak yang tumbuh dalam suatu keluarga miskin paling rentan terhadap kurang gizi diantara seluruh anggota keluarga dan anak yang paling kecil biasanya paling terpengaruh oleh kekurangan pangan. Sumber penghasilan kepala rumah tangga adalah petani dengan luas lahan 0,5ha, buruh tani, nelayan, buruh bangunan, buruh perkebunan, atau pekerjaan lainnya dengan pendapatan dibawah Rp. Tidak memiliki tabungan/ barang yang mudah dijual dengan nilai Rp. 500.000,00, seperti sepeda motor (kredit/ non kredit), emas, ternak, kapal motor, atau barang modal lainnya. Sumber penghasilan kepala rumah tangga adalah: petani dengan luas lahan 0,5 ha, buruh tani, nelayan, buruh bangunan, buruh perkebunan, atau pekerjaan lainnya dengan pendapatan dibawah Rp. Memiliki Kartu Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) atau Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda). Untuk Keluarga non miskin adalah kelurga yang tidak termasuk dalam kriteria di atas. Pada Dinas Kesehatan Kabupaten Lumajang selain tidak memenuhi 14 kriteria tersebut diatas juga tidak mempunyai kartu jamkesmas ataupaun jamkesda.