Memilih Adopsi Ketimbang Memiliki Anak Kandung

Memilih Adopsi Ketimbang Memiliki Anak Kandung

Memilih Adopsi Ketimbang Memiliki Anak Kandung – Mengadopsi dan mengangkat anak saat ini sudah menjadi salah satu aktivitas yang sudah lazim untuk dilakukan, bahkan bagi orang tua yang tidak mengalami kesulian memiliki anak.

Terkadang, mungkin muncul pertanyaan di benak kamu yang belum menikah. Dapatkah kamu menikahi lawan jenis tanpa mesti memiliki anak kandung? Adakah yang sudi menerima sunting tetapi tidak untuk bunting?

Iseng atau serius, keinginan semacam ini sebetulnya patut dipertimbangkan. Alasannya pun bukan hanya atas dasar hasrat dapat hidup mesra cuma berdua sampai tua, atau lantaran takut tidak sanggup menyejahterakan hidup keluarga. Alasan yang juga bisa kamu pakai adalah soal kekhawatiran pada masalah populasi.
Nyatanya, sekitar 68,9 juta manusia baru dilahirkan per tahun. Sementara angka kematian per tahun hanya 28,5 juta jiwa. Per data saat ini, Populasi manusia saat ini berada di angka 7,63 miliar jiwa. Diperkirakan pada tahun 2023 nanti populasi manusia akan mencapai 8 miliar, menjadi 9 miliar pada 2037, dan 10 miliar pada tahun 2055.

Masalah populasi juga menyinggung nasib anak-anak di sekitar kita. Ketika banyak orang dewasa mati, termasuk di dalamnya adalah para orang tua, banyak pula anak yang menjadi galeticdesign yatim/piatu. Menukil SOS Childern’s Statistic per April 2018, diperkirakan 153 juta anak di dunia adalah yatim/piatu.
Sejak tahun 1990, Angka anak yatim/piatu tidak pernah turun dari angka 140 juta. Jumlahnya 146 juta jiwa pada 1990, terus naik hingga ke angka 153 juta pada 2005; turun menjadi 140 juta jiwa pada 2015. Memang terjadi penurunan sejak 2001, namun itu cuma 0,7 persen per tahun.

Sesak memang, melihat data-data itu.Makin terdesak, mengetahui bahwa ada sekitar 168 juta anak yang diperkerjakan di bawah umur, 263 juta anak tidak sanggup sekolah, dan 69 juta anak di seluruh dunia menderita masalah nutrisi. Masalah-masalah tersebut tidak pernah jauh dari dua penyebab: kemiskinan atau ketidakhadiran orang tua yang merawat mereka.

Maka mengadopsi, ketimbang beranak kandung, bukankah menjadi opsi bagus? Terutama bagi kamu, yang muda dan berpenghasilan cukup bagus. Pengorbananmu, yang tidak sekadar mendambakan lucunya punya bayi itu, akan memberikan pengaruh positif terhadap masalah populasi, dan ketelantaran anak.

Memang gamang hidup tanpa anak kandung. Hal ini sekiranya bakal bikin sepasang suami-istri kerap digoda sunyi. Diam-diam mungkin iri pada tetangga yang dapat bebas beranak kapan saja mereka kehendaki.
Bukan perkara mudah hidup anpa darah daging yang kita dengarkan tangisannya, yang menghidupkan asa-asa rumah tangga dalam pertumbuhannya.
Orang bilang, anak adalah peredam lebur emosi orangtuanya. Dia melembutkan hati, hingga pada gilirannya, sanggup lebih memanusiakan sikap orang tua. Sanggupkah gejolak penggerak kalbu seperti ini didapatkan dari anak adopsi?
Saat kamu memikirkan jawabannya, atau malah melupakannya, jangan lupa fakta bahwa pertumbuhan populasi tidak pernah berkurang seiring waktu. Dia terus bertambah, setiap detik.